Saturday, 28 February 2009






Selengkapnya...

Thursday, 12 February 2009

2009: PRA versus SIRA versus GAM

Pertarungan politik yang patut diobservasi oleh berbagai kalangan kedepan adalah antara PRA, SIRA dan partai GAM. Ketiga partai lokal ini, kalau lolos verifikasi Dephumham diprediksikan akan menjadi tiga partai besar di Aceh kedepan. Ketiganya hari ini sedang melakukan konsolidasi luar biasa di berbagai level.
Partai Rakyat Aceh atau PRA yang dimotori oleh para mantan aktivis mahasiswa dan kelompok sipil Aceh adalah salah satu partai yang paling awal dideklarasikan. Tidak tanggung-tanggung, mereka menamakan partainya dengan Partai Rakyat Aceh. Manuver paling hebat dari partai ini adalah menunjuk Aguswandi sebagai Ketua Umum partai.. Ditunjuknya Aguswandi, lulusan Inggris, mantan musuh negara dan tokoh Aceh yang paling dikenal di dunia internasional, telah membuat popularitas PRA terdongkrak dengan tajam. Agus yang sebelumnya bahkan lebih popular dari Muhammad Nazar, melakukan konsolidasi dan menyatukan berbagai komponen sipil Aceh kedalam partai baru ini.

Secara konseptual PRA bahkan mengklaim dirinya yang paling siap. Visi PRA yang bisa dibaca di website mereka (http://www.partairakyataceh.org/) memperlihatkan kesiapan mereka secara konseptual dan mengambarkan PRA sebagai partai yang modern. Kreatifitas kampanye dan militansi yang sangat tinggi dari para pengurus PRA diperkirakan akan membuat mereka sangat kuat. Bagaimanapun partai ini akan mengalami banyak kendala karena lemah secara logistik dan berbagai tuduhan buruk yang ditempatkan ke tubuh mereka. Isu retaknya pengurus PRA, digantikannya Aguswandi, baru-baru ini juga diperkirakan akan sangat mempengaruhi solidnya partai PRA secara internal.

Yang paling diperhitungkan oleh banyak kalangan sebenarnya adalah Partai SIRA. Secara popularitas SIRA punya ketenaran yang hampir sama dengan GAM. Muhammad Nazar, mantan ketua SIRA dan juga sekarang menjabat wakil Gubernur Aceh adalah tokoh kunci yang sudah dikenal berbagai kalangan. Secara organisasi, perwakilan SIRA yang ada di berbagai kabupaten akan dengan mudah di transformasi dari SIRA sebagai Sentral Informasi Referendum Aceh menjadi partai SIRA, Suara Independen Rakyat Aceh.

Terpilihnya Taufik Abda yang dikenal sangat rajin dan mudah bergaul membuat SIRA akan lebih mudah berinteraksi dengan berbagai kalangan, termasuk kelompok sipil non SIRA di Aceh. Secara politik bergabungnya mantan negosiator GAM di Helsinki : Nur Djuli, Shadia Marhaban, dan Bakhtiar Abdullah kedalam SIRA membuat partai SIRA tidak bisa ditandingi. Irwandi, yang tidak lagi diterima dalam partai GAM, bahkan sudah menyatakan komitmennya dengan SIRA melalui jembatan Faisal Ridha, tokoh SIRA yang paling banyak berada di belakang layar.

Dukungan logistik dan strategi konsolidasi yang hebat dari SIRA akan membuat mereka menjadi partai paling makmur. Dukungan logistik untuk SIRA selain melalui kantor Wakil Gubernur, usaha bisnis dari para tokoh SIRA, juga dilakukan menggunakan jalur BRA (Badan Reintegrasi Aceh) yang operasionalnya dipimpin oleh Dawan Gayo yang juga sekretaris jenderal SIRA. Secara politik konsolidasi SIRA yang paling strategis adalah melalui Tim Asistensi Gubernur Aceh yang semua personilnya adalah tokoh-tokoh utama dari partai SIRA.

Partai GAM adalah partai ‘contender' yang paling serius lainnya untuk pemilu Aceh 2009. Secara nama, sejarah dan pengalaman, GAM adalah yang paling besar. Meuntro Malik Mahmud dan Muzakkir Manaf lansung terlibat penuh dalam partai ini. Mobilisasi terbesar partai GAM adalah melalui konstituen tradisional mereka dan juga jalur KPA (Komite Peralihan Aceh). Walaupun masih terjadi perpecahan, tetapi figur Malik dan Muzakir tetaplah figur pemersatu dalam tubuh GAM. Bergabungnya beberapa tokoh Muda, seperti Nurzahri, mantan Sekjen SIRA, Kautsar Muhammad Yus, dan beberapa tokoh muda lainnya dalam partai GAM ini membuat kualitas dan peluang partai GAM menjadi lebih baik.

Secara dukungan logistik, partai GAM masih mudah mendapatkannya. Dukungan utama secara logistik dari partai GAM adalah melalui Bupati Pidie yang dikenal paling loyal terhadap Meuntro Malik dan Tgk. Muhammad Lampoh Awee. Dukungan logistik lainnya untuk GAM adalah dari tokoh-tokoh GAM yang sekarang mulai terlibat dalam berbagai usaha bisnis di Aceh.

Masalah utama dari partai GAM adalah apakah mereka akan lewat verifikasi atau tidak. Kalau bendera dan lambang GAM terus dipertahankan maka akan hampir dipastikan GAM tidak akan lolos verifikasi dari pemerintah. Kalau mereka merubah nama dan bendera, maka akan memperlemah dimana mereka harus mulai memperkenalkan nama partai barunya dari nol/awal lagi. Ini akan sangat menguntungkan PRA dan SIRA yang secara nama sudah duluan dikenal oleh masyarakat luas. Konflik internal yang mungkin akan terus berlanjut dalam tubuh GAM juga akan membuat konsolidasi mereka lebih sulit.

Pemilu 2009 akan menjadi pemilu sangat menarik bagi rakyat Aceh. Ketiga partai lokal ini sebenarnya adalah punya konstituen yang hampir sama. Tetapi mengharapkan mereka membangun koalisi akan sangat sulit. PRA adalah partai yang sangat percaya diri dengan konsep dan militansi mereka. SIRA akan merasa paling kuat dan berambisi sekali untuk berkuasa. GAM adalah partai yang selalu percaya bahwa secara sejarah mereka adalah yang paling berhak memimpin Aceh. Koalisi akan sulit, walaupun tidak mustahil. Bagaimanapun kita mengharapkan semoga pemilu Aceh 2009 bisa berlansung damai, siapapun pemenangnya.

Penulis adalah pengamat masalah politik Aceh. Tinggal di Kabupaten Bireuen-NAD


Selengkapnya...

Taufik Abda Pimpin Partai SIRA

Banda Aceh - Setelah menjalani pemungutan suara, akhirnya peserta Kongres Partai SIRA, Kamis (13/12), memilih Muhammad Taufik Abda. Ia mengantongi 142 dukungan suara dari 230 pemilih.

M Taufik Abda mengalahkan dua kandidat lainnya, Muhammad MTA dengan 48 suara dan H Muhammad Saleh ST 12 suara. Kemenangan Taufik diluar prediksi publik. Sebelumnya nama Muhammad Nazar disebut-sebut memastikan memimpin partai lokal tersebut. Dalam pemilihan tersebut, Wakil Gubernur NAD itu tidak maju bertarung memperebutkan kursi ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai SIRA. Ia lebih memilih duduk kursi ketua Majelis Tinggi Partai dan didamping Faisal Ridha sebagai sekretaris.

Pemungutan suara dimulai sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah beberapa waktu peserta memberikan suaranya, tercatat 202 menyalurkan hak politiknya. Para kandidat diseleksi Majelis Tertinggi Partai, sebelum akhirnya bertarung memperebutkan suara. Aktivis Reza Fahlevi mengharapkan kepada ketua terpilih membawa agenda partai sesuai yang diharapkan. "Siapa saja yang terpilih harus mampu merangkul semuanya demi masa depan partai," kata dia.

Targetkan
Sementara itu, Ketua Majelis Tinggi Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA), Muhammad Nazar menargetkan akan memenangi pemilihan umum di Aceh tahun 2009.

"Semua ingin menang," kata dia. Meski pada Pemilu nantinya banyak partai, lanjut Wakil Gubernur Aceh itu, bukan berarti menjadi lawan Partai SIRA. Akan tetapi, semuanya mitra dalam sebuah pesta demokrasi .

Terpilihnya pengurus partai, maka Partai SIRA secara resmi telah berdiri dan untuk selanjutnya akan menjadi wadah politik. Tinggal bagaimana para pengurus partai menyusun konsolidasi dan menjadikan Partai SIRA mampu berbicara di kancah perpolitikan Aceh.

Partai SIRA, kata Nazar, merupakan partai yang terbuka bagi siapa saja. "Kita saat ini sudah memasuki arena politik. Untuk itu kemampuan dan kapasitas kita di sini akan diuji bagaimana membawa partai menjadi milik masyarakat," ungkap dia.

Diterima atau tidaknya Partai SIRA oleh masyarakat tergantung kemampuan pengurus dan kader menyosialisasikan kepada rakyat. "Ibarat produk, Partai SIRA harus mampu dibeli rakyat Aceh," kata Muhammad Nazar.

Salah seorang peserta Kongres mengatakan terpilihnya Taufik Abda sebagai Ketua Umum DPP Partai SIRA diyakininya akan kurang bisa membawa "luck" bagi partai ini, karena Taufik Abda terkenal sebagai orang yang keras atau kaku.

"Taufik Abda juga belum dikenal masyarakat Aceh, buktinya dalam Pilkada 2006, dia kalah ketika mencalonkan diri sebagai Walikota Banda Aceh," tambah sumber ini. (*)
Selengkapnya...

Atribut Partai SIRA dibakar OTK lagi !

Aceh Utara : Sejumlah atribut Partai Sentral Informasi Rakyat Aceh (SIRA) dinyatakan di bakar dan dirusaki oleh Orang Tak di Kenal (OTK) di beberapa Kecamatan dalam Aceh Utara sepanjang Kamis (15/1) Malam. Pihak Partai SIRA sangat menyesalkan kasus Politik curang seperti ini yang dimainkan oleh Partai lain ke Partai SIRA. Pernyataan itu disampaikan oleh Dewan Majelis Tinggi SIRA Pusat Muhammad Saleh, ST kepada AchehPress.com.

Menurut pengakuan dari kader SIRA asal Desa Long Baroe, Kecamatan Lapang Tgk. Hadi, bahwa pembakaran dan pengrusakan partai kami dilakukan oleh pihak partai lain pada tengah malam hari pada saat warga sedang tertidur lelap.

Dalam sepanjang malam hari kemarin (15/1), sedikitnya tiga baliho yang mengalami kerusakan dan ratusan bendera partaipun hilang di beberapa kecamatan dalam Aceh Utara. Adapun atribut yang di bakar adalah atas nama Faurizal, Tgk. Amarullah, Tgk. Husaini, Jamiati Keumala Dewi dan Muhammad Saleh, ST yang merupakan Caleg DPRA dari Partai SIRA,” sebutnya.

Dewan Majelis Tinggi SIRA menyesalkan perbuatan seperti ini karena sudah melanggar dari UU PA dan amanah dari MoU Helsinki yang menyampaikan tentang pembentukan Parlok-parlok yang ada di Aceh. ”Tidak ada istilah yang menganggap keberadaan Parlok di Aceh hanya satu partai. Kalaupun ada yang berani mengatakan seperti itu dari salah satu partai lokal, maka partai itu sudah pembohongan publik,” tegasnya.

Dia menambahkan, dengan dirusaki dan dibakarnya sejumlah atribut partai, SIRA tidak merasa berada dalam kekalahan. ”Kami tadi sore (16/1) memasang kembali atribut partai kami oleh sejumlah ranting dan disaksikan oleh puluhan warga,” katanya.

Dia menghimbau kepada seluruh kader dan ranting partai yang ada di seluruh Aceh agar dapat menenangkan diri dan jangan sampai terprovokasi dengan ancaman teror dan pelecehan partai. ”Kita serahkan dengan pihak berwajib dan kami menghimbau kepada partai yang melakukan politiknya dengan melanggar ketentuan undang-undang kepemiluan untuk segera berubah dalam menjaga perdamaian Pemilu di Aceh,” himbaunya. (*)


Selengkapnya...

Kantor Partai SIRA Bireuen Dibakar

[BANDA ACEH] Kantor Komite Pimpinan Kecamatan (KPK) Partai Suara Independen
Rakyat Aceh (SIRA) Kota Juang Bireuen, Provinsi Aceh, dibakar oleh pelaku yang
belum diketahui identitasnya pada Minggu (21/9). Insiden tersebut tidak
menimbulkan korban, yang terbakar pada bagian depan bangunan. Api berhasil
dipadamkan warga dalam waktu singkat.

Ketua Partai SIRA Bireuen, Khairil kepada wartawan, Minggu (21/9) mengatakan,
berdasarkan keterangan warga, beberapa saat sebelum pembakaran, sejumlah warga
melihat ada sebuah mobil Avanza warna hitam melintas di depan kantor itu. Dari
mobil tersebut turun dua orang menyiram minyak dan membakar, masyarakat yang
melihat langsung mendatangi kantor dan menyiram dengan air, sedangkan pelaku
langsung kabur ketakutan.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Bireuen, AKBP T Saladin melalui Kepala Satuan
Reserse dan Kriminal, AKP Trisna Safari membenarkan insiden itu. Polisi sudah
melakukan penyelidikan dan mengumpulkan barang bukti berupa satu jeriken yang
diduga dipakai pelaku untuk menyiram minyak ke kantor itu.

Terkait dengan pembakaran kantor Partai SIRA Bireuen, Wakil Gubernur Aceh,
Muhammad Nazar mengatakan, pihaknya tidak mau menuding siapa pelakunya.

Dia mengingatkan, perdamaian Aceh bukan hanya untuk kepentingan rakyat Aceh,
melainkan juga untuk kepentingan nasional, bahkan dunia internasional. Semua
masyarakat Aceh bersama-sama menjaga perdamaian yang sedang berlangsung di
Aceh. [*]


Selengkapnya...

Seratusan Bendera Partai SIRA dicopot

LHOKSEUMAWE - Sebanyak 119 dari 500 lembar bendera partai Suara Independent Rakyat Aceh (SIRA) yang dipasang di wilayah pemilihan dua (II), yakni di Kecamatan Muara Satu, Muara Dua, dan Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe dicopot (hilang-red) orang tak dikenal sejak seminggu terakhir.

Rudi, Ketua Partai SIRA Kota Lhokseumawe, Rabu (3/9) merincikan beberapa lokasi (desa-red) tempat pemasangan bendera yang hilang yakni, Desa Blang Naleung Mameh 18 lembar, Batuphat Barat 09 lembar, Batuphat Timur 11 lembar, Blang Pulo 12 lembar, Padang Sakti 08 lembar, Paloh Meuria 05 lembar, dan Keude Cunda 09 lembar. Ke semua desa itu bernaung di bawah Kecamatan Muara Dua dan Muara Satu, semuanya berjumlah 77 lembar.

Selanjutnya di Kec. Banda Sakti yakni di Simpang Lestari 05 lembar, Jalan Merdeka atau depan Masjid Baiturahman 15 lembar, Lapangan Hiraq 12 lembar, Simpang Kuta Blang 03 lembar dan di Jembatan depan BNI Cabang Lhokseumawe 07 lembar, jumlah keseluruhan bendera partai SIRA yang dicopot orang tak dikenal di Kecamatan Banda Sakti sebanyak 42 lembar.

“Jumlah total bendera yang kita pasang di tiga kecamatan 500 lembar dan jumlah bendera yang telah dinyatakan hilang 119 lembar. Umumnya, bendera yang hilang adalah bendera yang dipasang di lokasi yang suasananya agak sunyi dan jauh dari keramaian masyarakat,” jelas Rudi.

Kehilangan sejumlah bendera itu diketahui, setelah dilakukan pemantauan oleh tim dari partai itu sendiri ke sejumlah titik tempat pemasangan bendera. Sesuai dengan hasil temuan tim di lapangan, selain dicopot, bendera partai SIRA juga dirobek-robek oknum yang tidak bertanggungjawab itu.

“Ini pekerjaan pihak yang iri dengan kehadiran partai SIRA di kencah perpolitikan. Apalagi, partai SIRA selama ini diterima dengan baik oleh masyarakat Aceh,” kata Rudi menjawab pertanyaan Waspada.

Karena itu, kepada siapa saja pelaku pengrobekan dan pencopotan bendera Partai SIRA diimbau untuk segera bertaubat dan segera menghentikan perbuatan yang dapat merusak suasana perdamaian di Bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Apalagi, sekarang ini, kita semua sedang menjalankan ibadah puasa dan tidak sepantasnya melakukan perbuatan yang tidak terpuji.

Kepada para kader dan pengurus partai SIRA diharapkan untuk dapat menahan diri dan bersabar karena kesabaran merupakan bagian daripada iman. (ags/cmun)

Sumber Harian Waspada

Selengkapnya...

Template by : kendhin x-template.blogspot.com