Thursday, 12 February 2009

2009: PRA versus SIRA versus GAM

Pertarungan politik yang patut diobservasi oleh berbagai kalangan kedepan adalah antara PRA, SIRA dan partai GAM. Ketiga partai lokal ini, kalau lolos verifikasi Dephumham diprediksikan akan menjadi tiga partai besar di Aceh kedepan. Ketiganya hari ini sedang melakukan konsolidasi luar biasa di berbagai level.
Partai Rakyat Aceh atau PRA yang dimotori oleh para mantan aktivis mahasiswa dan kelompok sipil Aceh adalah salah satu partai yang paling awal dideklarasikan. Tidak tanggung-tanggung, mereka menamakan partainya dengan Partai Rakyat Aceh. Manuver paling hebat dari partai ini adalah menunjuk Aguswandi sebagai Ketua Umum partai.. Ditunjuknya Aguswandi, lulusan Inggris, mantan musuh negara dan tokoh Aceh yang paling dikenal di dunia internasional, telah membuat popularitas PRA terdongkrak dengan tajam. Agus yang sebelumnya bahkan lebih popular dari Muhammad Nazar, melakukan konsolidasi dan menyatukan berbagai komponen sipil Aceh kedalam partai baru ini.

Secara konseptual PRA bahkan mengklaim dirinya yang paling siap. Visi PRA yang bisa dibaca di website mereka (http://www.partairakyataceh.org/) memperlihatkan kesiapan mereka secara konseptual dan mengambarkan PRA sebagai partai yang modern. Kreatifitas kampanye dan militansi yang sangat tinggi dari para pengurus PRA diperkirakan akan membuat mereka sangat kuat. Bagaimanapun partai ini akan mengalami banyak kendala karena lemah secara logistik dan berbagai tuduhan buruk yang ditempatkan ke tubuh mereka. Isu retaknya pengurus PRA, digantikannya Aguswandi, baru-baru ini juga diperkirakan akan sangat mempengaruhi solidnya partai PRA secara internal.

Yang paling diperhitungkan oleh banyak kalangan sebenarnya adalah Partai SIRA. Secara popularitas SIRA punya ketenaran yang hampir sama dengan GAM. Muhammad Nazar, mantan ketua SIRA dan juga sekarang menjabat wakil Gubernur Aceh adalah tokoh kunci yang sudah dikenal berbagai kalangan. Secara organisasi, perwakilan SIRA yang ada di berbagai kabupaten akan dengan mudah di transformasi dari SIRA sebagai Sentral Informasi Referendum Aceh menjadi partai SIRA, Suara Independen Rakyat Aceh.

Terpilihnya Taufik Abda yang dikenal sangat rajin dan mudah bergaul membuat SIRA akan lebih mudah berinteraksi dengan berbagai kalangan, termasuk kelompok sipil non SIRA di Aceh. Secara politik bergabungnya mantan negosiator GAM di Helsinki : Nur Djuli, Shadia Marhaban, dan Bakhtiar Abdullah kedalam SIRA membuat partai SIRA tidak bisa ditandingi. Irwandi, yang tidak lagi diterima dalam partai GAM, bahkan sudah menyatakan komitmennya dengan SIRA melalui jembatan Faisal Ridha, tokoh SIRA yang paling banyak berada di belakang layar.

Dukungan logistik dan strategi konsolidasi yang hebat dari SIRA akan membuat mereka menjadi partai paling makmur. Dukungan logistik untuk SIRA selain melalui kantor Wakil Gubernur, usaha bisnis dari para tokoh SIRA, juga dilakukan menggunakan jalur BRA (Badan Reintegrasi Aceh) yang operasionalnya dipimpin oleh Dawan Gayo yang juga sekretaris jenderal SIRA. Secara politik konsolidasi SIRA yang paling strategis adalah melalui Tim Asistensi Gubernur Aceh yang semua personilnya adalah tokoh-tokoh utama dari partai SIRA.

Partai GAM adalah partai ‘contender' yang paling serius lainnya untuk pemilu Aceh 2009. Secara nama, sejarah dan pengalaman, GAM adalah yang paling besar. Meuntro Malik Mahmud dan Muzakkir Manaf lansung terlibat penuh dalam partai ini. Mobilisasi terbesar partai GAM adalah melalui konstituen tradisional mereka dan juga jalur KPA (Komite Peralihan Aceh). Walaupun masih terjadi perpecahan, tetapi figur Malik dan Muzakir tetaplah figur pemersatu dalam tubuh GAM. Bergabungnya beberapa tokoh Muda, seperti Nurzahri, mantan Sekjen SIRA, Kautsar Muhammad Yus, dan beberapa tokoh muda lainnya dalam partai GAM ini membuat kualitas dan peluang partai GAM menjadi lebih baik.

Secara dukungan logistik, partai GAM masih mudah mendapatkannya. Dukungan utama secara logistik dari partai GAM adalah melalui Bupati Pidie yang dikenal paling loyal terhadap Meuntro Malik dan Tgk. Muhammad Lampoh Awee. Dukungan logistik lainnya untuk GAM adalah dari tokoh-tokoh GAM yang sekarang mulai terlibat dalam berbagai usaha bisnis di Aceh.

Masalah utama dari partai GAM adalah apakah mereka akan lewat verifikasi atau tidak. Kalau bendera dan lambang GAM terus dipertahankan maka akan hampir dipastikan GAM tidak akan lolos verifikasi dari pemerintah. Kalau mereka merubah nama dan bendera, maka akan memperlemah dimana mereka harus mulai memperkenalkan nama partai barunya dari nol/awal lagi. Ini akan sangat menguntungkan PRA dan SIRA yang secara nama sudah duluan dikenal oleh masyarakat luas. Konflik internal yang mungkin akan terus berlanjut dalam tubuh GAM juga akan membuat konsolidasi mereka lebih sulit.

Pemilu 2009 akan menjadi pemilu sangat menarik bagi rakyat Aceh. Ketiga partai lokal ini sebenarnya adalah punya konstituen yang hampir sama. Tetapi mengharapkan mereka membangun koalisi akan sangat sulit. PRA adalah partai yang sangat percaya diri dengan konsep dan militansi mereka. SIRA akan merasa paling kuat dan berambisi sekali untuk berkuasa. GAM adalah partai yang selalu percaya bahwa secara sejarah mereka adalah yang paling berhak memimpin Aceh. Koalisi akan sulit, walaupun tidak mustahil. Bagaimanapun kita mengharapkan semoga pemilu Aceh 2009 bisa berlansung damai, siapapun pemenangnya.

Penulis adalah pengamat masalah politik Aceh. Tinggal di Kabupaten Bireuen-NAD


0 suara:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com